Mengurai Strategi Jitu Peningkatan Produktivitas di Perkebunan Sawit Rakyat
February 21, 2026 | Penulis: Rizqi Luwih Saputri
Industri kelapa sawit Indonesia kini berada di titik persimpangan yang krusial dan banyak mendapatkan stigma kurang baik di masyarakat. Di satu sisi, perkebunan rakyat menyumbang lebih dari 40% dari total luas lahan sawit nasional, menjadikannya tulang punggung ekonomi jutaan keluarga. Di sisi lain, tekanan global mengenai isu keberlanjutan (sustainability) dan lingkungan menuntut transformasi besar-besaran di tingkat hulu. Tren sawit rakyat kini mulai bergeser bukan lagi soal seberapa luas lahan yang dimiliki, melainkan seberapa intensif dan ramah lingkungan manajemen yang diterapkan.
Dahulu, perkebunan sawit rakyat sering diidentikkan dengan pengelolaan seadanya dengan bibit asalan, pemupukan tidak teratur, dan infrastruktur yang minim. Namun, tren terkini menunjukkan perubahan karena banyaknya informasi dan data. Petani seperti Bang Rony Siswanto dari Sekadau, Kalimantan Barat, membuktikan bahwa perkebunan rakyat bisa dikelola setara dengan standar perusahaan besar. Kesadaran akan legalitas lahan dan penggunaan benih bersertifikat kini, serta pemupukan yang tepat mendorong kenaikan produktivitas bukan hanya menaikkan produksi dari luas lahan.
Isu sustainable bukan sekadar jargon untuk memenuhi sertifikasi ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil). Bagi petani modern, keberlanjutan berarti menjaga kesehatan tanah agar tetap produktif dalam jangka panjang. Salah satu strategi ramah lingkungannya adalah mengutamakan asupan organik sebagai pembuka siklus pemupukan tahunan. Penggunaan bahan organik baik cair maupun padat yang berfungsi sebagai pembenah tanah yang memperbaiki struktur mikroorganisme. Tanah yang sehat akan memiliki kemampuan penyerapan nutrisi yang lebih baik, sehingga meminimalisir risiko pencemaran lingkungan akibat pupuk kimia yang tercuci (leaching) karena tidak terserap tanaman. Dengan tanah yang gembur, efisiensi pemupukan kimia pun meningkat drastis.
Dalam sesi BicaraTani, Bang Rony membagikan resep teknis yang berhasil mendongkrak produktivitas kebunnya hingga menyentuh angka 3,2 ton/ha/bulan pada tanaman usia 8 tahun angka yang jauh melampaui rata-rata nasional petani rakyat. Strategi ini bertumpu pada tiga pilar utama yaitu pemilihan lahan, penggunaan bibit unggul, dan program pemupukan yang tepat.
Keberhasilan dimulai dari pemilihan lahan mineral kelas 1 atau 2. Bang Rony juga menekankan pentingnya investasi awal pada infrastruktur jalan produksi menggunakan alat berat. Akses yang baik memastikan proses pengangkutan pupuk ke dalam dan TBS ke luar lahan berjalan efektif, mengurangi biaya langsir yang sering membengkak.
Investasi terbaik adalah pada benih. Menggunakan varietas unggul seperti Avros atau Yangambi dari PPKS memastikan potensi genetik tanaman sudah berada di level tertinggi. Benih menjadi modal utama yang hanya perlu diberi nutrisi dan lingkungan yang tepat untuk mengoptimalkan potensi genetiknya.
Bang Rony menerapkan jadwal pemupukan yang sangat disiplin dengan urutan nutrisi yang terukur dimulai pada Januari dengan aplikasi pupuk organik sebagai pembenah tanah, disusul pemberian 3 kg Dolomit di bulan Februari untuk stabilitas pH, serta 3 kg MerokeFosfat pada April guna memperkuat perakaran. Memasuki pertengahan tahun, tanaman dipacu dengan 2 kg Nitrogen di bulan Juni untuk pertumbuhan vegetatif, yang kemudian diperkuat dengan 2 kg Meroke KKB pada Agustus guna mendongkrak bobot buah, serta 1 kg NPK Mutiara 16-16-16 di bulan November untuk menjaga keseimbangan hara makro. Siklus ini ditutup pada Desember dengan pemberian 200 gram Boron per pokok sebagai pengunci kualitas untuk mencegah kerontokan buah dan menjaga kesehatan pucuk tanaman sepanjang tahun.
Kisah Bang Rony menjadi bukti autentik bahwa produktivitas tinggi tidak harus mengorbankan kelestarian lingkungan. Dengan mengubah paradigma dari peningkatan produksi tidak melalui pembukaan lahan baru namun dapat melalui intensifikasi lahan yang sudah ada, setiap jengkal perkebunan sawit rakyat memiliki potensi untuk menjadi sumber kesejahteraan.
Artikel Lainnya
January 20, 2026






