PT MEROKE TETAP JAYA
Jurnal Mutiara | 011

Membedah Kalium: Definisi, Sejarah, Fungsi, Defisiensi, dan Gejala Overdosis

 

Abstrak
Kalium (K) merupakan unsur hara makro esensial yang berperan dalam aktivasi lebih dari 60 enzim, osmoregulasi stomata, dan translokasi gula untuk meningkatkan bobot serta kualitas hasil panen. Sebagai kation bebas, kalium tidak hanya mendukung pertahanan tanaman terhadap cekaman lingkungan, tetapi juga memperkuat struktur batang agar tidak mudah rebah. Namun, ketersediaannya yang terbatas di tanah sering kali menganggu hasil panen, sebab kekurangan kalium dapat memicu klorosis pada daun tua dan pelemahan akar, sementara pemberian dosis yang berlebihan justru dapat menghambat penyerapan nutrisi penting lainnya seperti kalsium dan magnesium melalui fenomena antagonisme hara.

Kata kunci: Kalium, Unsur Hara Makro, Hasil, Enzim, Panen


Pembahasan
Dalam dunia nutrisi tanaman, kalium (K) sering kali dijuluki sebagai unsur kualitas. Berbeda dengan nitrogen atau fosfor, kalium tidak menyatu ke dalam struktur molekul organik seperti protein atau DNA. Sebaliknya, ia bekerja sebagai kation bebas yang mengatur lalu lintas biokimia di dalam sel. Sebagai salah satu makronutrien esensial, kehadiran kalium menentukan apakah sebuah tanaman akan tumbuh meranggas atau berkembang dengan hasil panen yang melimpah (Sardans & Peñuelas, 2021).

Definisi dan Sejarah Singkat
Secara terminologi, nama kalium berasal dari bahasa Latin "kalium" dari kata Arab al-qalyah (abu tanaman) yang berarti alkali, sementara istilah bahasa Inggris "potassium" berakar dari kata "pot ash" abu hasil pembakaran kayu yang kaya akan garam kalium. Dalam konteks biologi, kalium diakui sebagai kation monovalen paling melimpah yang ditemukan di dalam sel tumbuhan, mencakup hingga 10% dari berat kering tanaman (Sardans & Peñuelas, 2021). Menurut kriteria Arnon dan Stout (1939), kalium dianggap esensial karena tanaman tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya tanpa unsur ini, dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh elemen lain (Potassium in Plants, 2000).

Meskipun kalium adalah salah satu elemen paling melimpah di kerak bumi, ketersediaannya bagi tanaman di area perakaran (rhizosfer) sering kali menjadi faktor pembatas. Kalium tersedia di tanah dalam berbagai bentuk, namun hanya sebagian kecil yang berada dalam larutan tanah dan dapat langsung diserap oleh akar (Hafsi et al., 2014). Kelangkaan ini sering kali memaksa petani untuk melakukan manajemen pemupukan intensif guna memastikan produktivitas lahan tetap terjaga (Hafsi et al., 2014).

Fungsi Kalium

Peran kalium dalam fisiologi tanaman sangatlah luas. Salah satu fungsi utamanya adalah sebagai aktivator bagi lebih dari 60 enzim yang mengendalikan proses vital seperti sintesis protein dan fotosintesis (Wang et al., 2013). Selain itu, kalium adalah aktor utama dalam osmoregulasi. Ia mengontrol turgor sel, yang secara langsung mengatur pembukaan dan penutupan stomata (pori daun) untuk pertukaran gas dan efisiensi penggunaan air (Potassium in Plants, 2000).

Lebih jauh lagi, kalium berperan krusial dalam mekanisme pertahanan tanaman. Ketika tanaman menghadapi cekaman abiotik seperti kekeringan, salinitas, atau suhu ekstrem, kalium membantu menjaga keseimbangan energi dan mengurangi akumulasi senyawa beracun (Wang et al., 2013). Ia juga meningkatkan ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit dengan memperkuat dinding sel dan mengoptimalkan metabolisme sekunder (Sardans & Peñuelas, 2021).

Memasuki fase generatif, peran kalium bergeser menjadi koordinator dalam distribusi energi dan penentuan kualitas hasil panen. Fungsi yang paling dominan pada tahap ini adalah pengaturan translokasi fotosintat atau pengangkutan gula dari daun menuju organ reproduksi seperti buah, biji, atau umbi. Kalium menggerakkan energi dalam bentuk ATP untuk memuat gula ke dalam pembuluh floem, sehingga menentukan bobot dan ukuran hasil panen. Oleh karena itu, kalium sering dijuluki sebagai "unsur kualitas" karena kemampuannya meningkatkan parameter kualitas seperti rasa manis, warna, hingga kandungan vitamin (Sardans & Peñuelas, 2021). Selain pengisian buah, kalium sangat penting untuk memperkuat jaringan mekanis pada batang. Hal ini mencegah tanaman mengalami rebah (lodging) akibat beban buah yang berat atau terpaan angin (Wang et al., 2013). Terakhir, karena kalium bersifat mobil, tanaman yang memasuki fase generatif akan memprioritaskan distribusi hara ini ke bagian reproduksi. Jika pasokan dari tanah terbatas, tanaman akan menarik kalium dari daun tua ke buah, yang menurut Hafsi et al. (2014) dapat memicu klorosis dan kematian prematur pada daun tua demi menjamin keberhasilan pembentukan biji.

Defisit Kalium: Gejala dan Dampak
Kekurangan kalium memicu rangkaian respons negatif mulai dari tingkat molekuler hingga morfologis. Salah satu tanda awal adalah klorosis atau menguningnya pinggiran daun tua, karena kalium bersifat mobil dan akan dipindahkan ke daun muda yang sedang tumbuh (Potassium in Plants, 2000). Secara fisiologis, defisit K memicu produksi Spesies Oksigen Reaktif yang berlebihan, yang dapat merusak struktur seluler (Hafsi et al., 2014). Tanaman yang kekurangan kalium biasanya memiliki batang yang lemah, sistem perakaran yang buruk, serta sangat rentan terhadap rebah dan cekaman lingkungan (Wang et al., 2013; Hafsi et al., 2014).

Overdosis dan Antagonisme Hara
Meskipun jarang terjadi keracunan kalium secara langsung, pemberian kalium yang berlebihan dapat memicu ketidakseimbangan nutrisi. Fenomena ini dikenal sebagai antagonisme hara, di mana kelebihan K menghambat penyerapan kation lain seperti magnesium (Mg2+) dan kalsium (Ca2+) (Potassium in Plants, 2000). Akibatnya, tanaman mungkin menunjukkan gejala kekurangan magnesium meskipun kadar magnesium di tanah mencukupi (Sardans & Peñuelas, 2021). Oleh karena itu, keseimbangan dosis dalam aplikasi pupuk menjadi kunci utama dalam praktik pertanian berkelanjutan.


Daftar Pustaka
Hafsi, C., Debez, A., & Abdelly, C. (2014). Potassium deficiency in plants: effects and signaling cascades. Acta Physiologiae Plantarum, 36, 1055–1070. https://doi.org/10.1007/s11738-014-1491-2
Hell, R., & Mendel, R. R. (Eds.). (2010). Cell Biology of Metals and Nutrients. Springer-Verlag. Potassium in Plants. (2000). In Plant Nutrient Management in Hawaii’s Soils (pp. 31–55). College of Tropical Agriculture and Human Resources, University of Hawaii.
Sardans, J., & Peñuelas, J. (2021). Potassium Control of Plant Functions: Ecological and Agricultural Implications. Plants, 10(2), 419. https://doi.org/10.3390/plants10020419
Wang, M., Zheng, Q., Shen, Q., & Guo, S. (2013). The Critical Role of Potassium in Plant Stress Response. International Journal of Molecular Sciences, 14(4), 7370–7390. https://doi.org/10.3390/ijms14047370

 

 

Jurnal Lainnya